Bahasa indonesia, Makalah Kalimat Efektif
KALIMAT EFEKTIF
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu:
Eka Nurjanah, M.Pd
Oleh:
Muhammad Sugianto
NIM. 1219008
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA (AHWAL AL-SYAKSIYAH)
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG
2019
A. Pendahuluan1. Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, di sela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Adapun dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek (S) dan sebuah predikat (P).
Bahasa adalah alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lainnya dengan tujuan menyampaikan maksud dari si pembicara. Bahasa tentu memiliki unsur atau aturan yang digunakan agar dapat lebih mudah di pahami oleh lawan bicara. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimat-kalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis tertarik untuk membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.
Dalam berkomunikasi dengan orang lain, kita mengenal bahasa lisan dan bahasa tulisan. Kedua bahasa ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Penggunaan kalimat yang baik dan benar (yang disebut kalimat efektif) akan memudahkan pemahanam orang lain sehingga kesalahpahaman yang sering terjadi dapat terhindarkan.
Untuk menjadikan kalimat yang diucapkan atau ditulis mudah dimengerti oleh orang lain, ada dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, kalimat tersebut secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis. Kedua, kalimat tersebut sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis. Faktor yang menjadikan gagasan diterima dengan baik adalah penggunaan kalimat yang baik dan benar serta penggunaan huruf dan tanda baca yang sesuai dengan kaidah tata bahasa.
2. Rumusan Masalah
a. Apa itu kalimat efektif.
b. Apa saja syarat kalimat efektif.
c. Bagaimana cara menyusun kalimat efektif.
3. Tujuan
a. Mengetahui tentang kalimat efektif.
b. Mengetahui syarat kalimat efektif.
c. Dapat menulis dan menyusun kalimat efektif.
B. Pembahasan
1. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki satu gagasan pokok. Unsur-unsurnya minimal terdiri atas subjek dan predikat . Kalimat efektif di definisikan sebagai kalimat yang memiliki kemampuan untuk mengungkapkan gagasan penutur sehingga pendengar atau pembaca dapat memahami gagasan yang di maksud oleh penutur.
Menurut Widjono (22007: 161), karakteristik kalimat efektif setidaknya mencakup hal-hal sebagai berikut
- Kesepadan dan kesatuan gagasan. Karakteristik ini harus ada agar informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Kesatuan kalimat ditandai dengan kesepadanan struktur dan makna kalimat.
- Hadirnya subjek (S) dan predikat (P). Suatu kalimat harus memiliki subjek dan predikat yang jelas.
- Tidak hadirnya subjek ganda. Suatu klausa atau kalimat tunggal hanya boleh memiliki satu subjek. Jika lebih dari satu subjek, maka subjek yang lain harus di buang.
- Tidak hadirnya kata hubung intra kalimat, khususnya pada kalimat tunggal. Kata hubung, seperti sedangkan dan sehingga, hanya di gunakan dalam kalimat majemuk dan tidak boleh ada dalam kalimat tunggal.
- Tidak hadirnya kata yang di depan predikat. Kehadiran kata yang akan mengakibatkan kalimat kehilangan predikat. Oleh karena itu, kata yang harus dibuang dari kalimat tersebut.
- Kesejajaran adalah penggunaan bentuk-bentuk yang sama pada kata-kata yang paralel dan memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lain pun harus menggunakan di- pula.
- Ketegasan merupakan suatu penekanan atau penegasan pada ide pokok kalimat. Dengan kata lain, ketegasan adalah peletakan bagian yang ingin ditegaskan di awal kalimat agar pembaca dapat dengan mudah mendapatkan informasi. Ketegasan juga dapat dilakukan dengan menghilangkan keterangan yang mengaburkan hubungan antara subjek dan predikat.
- Kehematan dalam kalimat efektif adalah menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Hal ini dikarenakan oleh penggunaan kata yang berlebih akan mengaburkan maksud kalimat.
- Kelogisan, artinya hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis atau masuk akal.
- Kecermatan, artinya kalimat yang dihasilkan tidak menimbulkan penafsiran ganda dan harus tepat dalam penggunaan diksi. Prinsip kecermatan adalah tepat menggunakan diksi. Untuk itu, penulis harus membedakan kata yang hampir bersinonim, struktur idiomatik, kata yang berlawanan makna, ketepatan dan kesesuaian, dan sebagainya.
2. Syarat Kalimat Efektif
Syarat-syarat dalam kalimat efektif, yaitu:
a. Koherensi
Koherensi yaitu hubungan timbal balik yang baik dan jelas antar unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kata itu. Ada bagian-bagian kalimat yang memiliki hubungan yang lebih erat sehingga tidak boleh dipisahkan, ada yang lebih renggang kedudukannya sehingga boleh ditempatkan dimana pun, asal jangan disisipkan antara kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang rapat hubungannya.
Hal-hal yang merusak Koherensi yaitu:
Koherensi rusak karena tempat kata dalam dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.
Kesalahan menggunakan kata-kata depan, kata penghubung, dan ssebagainya.
Pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang-tidih, atau hakikatnya mengandung kontradiksi.
Kesalahan menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dan sebagainya) pada kata kerja tanggap.
b. Kesatuan
Syarat kalimat efektif haruslah mempunyai struktur yang baik. Artinya, kalimat itu harus memiliki unsur subjek dan predikat, atau bisa ditambah dengan objek, keterangan, dan unsur-unsur subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap, melahirkan keterpautan arti yang merupakan ciri keutuhan kalimat.
Contoh: Ibu menata ruang tamu tadi pagi
Dari contoh tersebut, kalimat ino jelas maknanya, hubungan antarunsur menjadu jelas sehingga ada kesatuan bentuk yang membentuk kepaduan makna. Pada umumnya dalam suatu kalimat terdapat satu ide yang hendak disampaikan serta penjelasan mengenai ide tersebut. Hal ini perlu di tata dalam kalimat secara cermat agar informasi dan maksud penulis mencapai sasarannya.
c. Kehematan
Kehematan yang dimaksud berupa kehematan dalam pemakaian kata, frasa, atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Berikut unsur-unsur penghematan yang harus diperhatikan:
Frasa dapa awal kalimat. Contoh:
Sulit untuk menentukan diagnosa jika keluhan hanya berupa sakit perut, menurut ahli bedah.(Benar)
pengurangan subjek kalimat. Contoh:
Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan. (Salah)
d. Keparalelan
Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama memakai kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya harus memakai kata kerja berimbuhan me- juga. Contoh:
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (Tidak efekti)
Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (Efektif)
e. Penekanan
Gagasan pokok atau misi yang ingin ditekankan eh pembicara biasanya dilakukan dengan memperlambat ucapan, melirihkan suara, dan sebagainya pada bagian kalimat tadi. Dalam penulisannya ada berbagai cara untuk memberikan penekanan, yaitu:
Posisi dalam kalimat
Untuk memberikan penekanan dalam kalimat, biasanya dengan menempatkan bagian itu di depan kalimat. Pengutamaan bagian kalimat selain dapat mengubah urutan kata juga dapat mengubah bentuk kata dalam kalimat. Contoh:
Salah satu indikator yang menunjukkan pertamina tidak efektif adalah rasio yang masih timpang antara jumlah pegawai pertamina dengan produksi minyak.
Urutan yang logis
Suatu kalimat biasanya menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa. Kejadian yang berurutan hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan yang logis dapat disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang makin lama makin penting atau menggambarkan suatu proses. Contoh:
Kehidupan anak muda itu sulit dan tragis.
f. Kevariasian
Untuk menghindari kebosanan dan keletihan saat membaca, diperlukan variasi dalam teks. Ada kalimat yang dimulai dengan subjek, predikat, atau keterangan. Ada kalimat yang pendek dan panjang.
Cara memulai.
Subjek pada awal kalimat.
Predikat pada awal kalimat (kalimat inversi sama dengan susun balik).
Kata modal pada awal kalimat.
Dengan adanya kata modal, maka kalimat-kalimat akan berubah nadanya, yang tegas menjadi ragu, dan yang keras menjadi lembut atau sebaliknya. Untuk menyatakan kepastian digunakan kata: pasti, pernah, tentu, sering, jarang, kerapkali, dan sebagainya. Untuk menyatakan ketidakpastian digunakan: mungkin, barangkali, kira-kira, rasanya, tampaknya, dan sebagainya. Untuk menyatakan kesungguhan digunakan: sebenarnya, sesungguhnya, sebetulnya, benar, dan sebagainya. Contoh: sering mereka belajar bersama-sama.
Panjang-pendek kalimat.
Tidak selalu kalimat pendek mencerminkan kalimat yang baik atau efektif, kalimat panjang tidak selalu rumit. Akan tetapi tidak sangat menyenangkan bila membaca karangan yang hanya terdiri dari kalimat yang seluruhnya pendek-pendek atau panjang-panjang. Dengan menggabungkan beberapa kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk setara akan terasa hubungan antara kalimat menjadi lebih jelas, lebih mudah dipahami sehingga keseluruhan paragraf merupakan kesatuan yang utuh.
Jenis kalimat.
Biasanya dalam menulis, orang cenderung menyatakannya dalam wujud kalimat berita. Hal ini wajar karena dalam kalimat berita berfungsi untuk memberitahu tentang sesuatu. Dengan demikian, semua yang bersifat memberi informasi dinyatakan dengan kalimat berita. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi, kalimat tanya atau kalimat perintah tidak digunakan, justru variasi dari ketiganya akan memberikan penyegaran dalam karangan.
Kalimat aktif dan pasif.
selain pola inversi, panjang-pendek kalimat, kalimat majemuk dan setara, maka pada kalimat aktif dan pasif dapat membuat tulisan menjadi bervariasi.
Kalimat langsung dan tidak langsung.
Biasanya yang dinyatakan dalam kalimat langsung ini adalah ucapan ucapan-ucapan yang bersifat ekspresif. Tujuannya tentu saja untuk menghidupkan paragraf. Kalimat langsung dapat diambil dari hasil wawancara, ceramah, pidato, atau mengutip pendapat seseorang dari buku. Kalimat tidak langsung yaitu kalimat yang tidak memakai tanda petik dalam penulisannya dan bukan di ucapkan secara langsung.
Contoh: Ali berjanji kepada ibunya bahwa ia tidak mengulangi perbuatan itu lagi.
g. Penalaran atau logika
Penalaran adalah proses berpikir yang didasarkan atas pengamatan secara empiris yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian yang logis. hasil pengamatan, pengetahuan, dan pemahaman akan membentuk proposisi2. selanjutnya proposisi-proposisi tersebut dibuat menjadi simpulan terdapat dua cara penyusunan atau pengembangan tulisan sebelum menuju pada sebuah simpulan yakni induktif dan deduktif
Penalaran induktif adalah proses bernalar yang berawal dari konsep yang khusus atau yang spesifik dan diakhiri dengan konsep yang bersifat umum. kesimpulan penalaran induktif selalu berupa generalisasi, artinya pernyataan itu selalu meliputi sejumlah besar peristiwa yang khusus.
Banyak penalaran induktif yang berupa fakta, tetapi banyak juga yang hanya berupa asumsi atau andaian. andayani adalah fakta atau pernyataan yang dianggap benar walaupun belum atau tidak dapat dibuktikan. pada penalaran induktif, kita mengamati sejumlah peristiwa khusus dan kemudian mengambil kesimpulan berupa generalisasi yang berlaku Atas kejadian yang disaksikan dan yang kira-kira juga akan berlaku pada peristiwa sejenis pada waktu yang akan datang. penalaran induktif sering diperkuat dengan contoh, perincian, penjelasan, pengkhususan, atau ilustrasi.
Penalaran deduktif merupakan kebalikan dari proses penalaran induktif. penalaran deduktif, yaitu proses bernalar yang bersifat umum ke khusus atau penarikan simpulan dari hal-hal yang bersifat general atau umum ke hal-hal yang bersifat spesifik atau khusus. dengan kata lain, proses yang diawali dengan penyajian dari berbagai konsep yang umum ke konsep yang khusus (simpulan) selanjutnya, proses deduksi dapat ditempuh melalui tiga tahapan: (1) generalisasi sebagai titik tolak; (2) penerapan generalisasi pada kejadian tertentu; dan (3) kesimpulan deduktif yang berlaku bagi peristiwa khusus tersebut.
Hampir setiap keputusan atau simpulan yang kita ambil berdasar pada penalaran deduktif, sedangkan generalisasi yang kita gunakan seringkali diperoleh lewat pengamatan atau eksperimen orang lain. dalam proses deduksi, pengandaian atau generalisasi yang keliru atau salah hendaknya diperhatikan walaupun penalaran kita benar.
Peranti deduksi biasanya disebut silogisme silogisme. dibangun dari tiga bagian: premis Mayor, premis minor, dan kesimpulan. premis ialah putusan (proposition) yang menjadi dasar bagi argumentasi. putusan ialah pernyataan yang menunjukkan sesuatu atau mengingkarinya sehingga dapat dikatakan benar atau salah. putusan dapat berbentuk putusan positif maupun negatif; benar, salah, Atau mungkin juga mengasingkan. premis Mayor adalah suatu generalisasi yang meliputi semua unsur kategori, banyak diantaranya atau Hanya berupa unsur saja. premis minor ialah penyamaan suatu objek atau ide dengan unsur yang dicakup pada premis Mayor. Kesimpulan adalah gagasan yang dihasilkan oleh penerapan generalisasi dalam premis Mayor pada peristiwa yang khusus dalam premis minor. sumber dan jenis premis Mayor yang mendasari kesimpulan deduktif—disamping generalisasi induktif—yaitu tata nilai budaya, adat istiadat, agama, keyakinan, wawasan, telaah studi, politik, takhayul, dan pikiran sehat.
Dalam paragraf yang bercorak penalaran Induktif, kalimat pokoknya (topic sentence) Biasanya berupa generalisasi induktif. paragraf tersebut kemudian dikembangkan dengan hal-hal yang khusus untuk menunjang perumusan tersebut. biasanya Dalam paragraf penalaran deduktif, kalimat pokoknya adalah suatu gagasan yang berupa kesimpulan silogisme, Sedangkan pengembangan paragraf akan berupa usaha untuk membuktikan kesahihan premis minor.
3. Teknik Menyusun Kalimat Efektif
Ada beberapa hal yang layak diperhatikan saat menyusun kalimat sehingga benar-benar efektif, yakni:
- Variasikan panjang-pendeknya kalimat. Kalimat pendek terdiri dari 2 sampai 15 kata. Kita menggunakan kalimat pendek dan kalimat panjang dengan kombinasi yang apik. Variasi ini akan menjadikan tulisan kita menarik. Dengan variasi ini, kalimat yang kita susun akan terasa berirama dan indah.
- Kombinasikan kalimat langsung dengan kalimat tidak langsung. Kalimat langsung adalah kalimat yang dipetik langsung dari kata ucapan seseorang. Apa yang diucapkan atau ditulis seseorang, itulah yang dipetik tanpa mengubahnya sama sekali. Kalimat langsung dicirikan dengan tanda petik ganda (") pada awal dan akhir petikan. Kalimat tidak langsung ialah kalimat yang secara tidak langsung menyampaikan sebuah pernyataan. Kalimat tidak langsung dicirikan dengan kata “bahwa" antara bagian kalimat yang dibuat oleh penulisnya sendiri dengan bagian lainnya yang diambil dari sebuah pernyataan.
- Kalimat hendaknya berdiri sendiri. Misalnya: “Berdasarkan informasi terbaru yang diperoleh dari sebuah harian ibu kota." Menurut anda apakah kalimat itu bisa dikatakan selesai dan berdiri sendiri? Tidak, bukan? Anda mungkin akan mencoba melengkapinya sehingga menjadi suatu kalimat yang utuh dan berdiri sendiri.
- Hindari kalimat beranak-pinak. Cobalah perhatikan kalimat ini: “Aku baru saja pergi kepasar untuk membeli sejumlah belanjaan, seperti sayur-mayur, daging, ikan, cabai, garam, dan membeli peralatan dapur lainnya seperti piring, sendok, periuk, di samping pergi ke tukang arloji di pasar untuk memperbaiki arlojiku yang sudah lama rusak dan tidak pernah ku pakai lagi ketika bepergian ke mana pun termasuk ketika aku pergi ke Lampung beberapa waktu yang lalu dengan teman-teman di kantorku untuk urusan kedinasan." Kendatipun dapat dimengerti, tetapi cukup melelahkan membacanya, bukan? Kalimat tersebut dapat dipotong sehingga menjadi tiga kalimat yang utuh dan lebih enak dibaca.
- Kombinasikan jenis kalimat yang digunakan. Pakailah kalimat-kalimat berita dan sesekali kombinasikan dengan kalimat lansung dan tidak langsung. Jangan lupa pula memanfaatkan kalimat tanya. Hal ini untuk variasi agar rangkaian kalimat yang kita susun menjadi lebih hidup.
Contoh kalimat efektif dan tidak efektif
Sungguh sangat benar-benar malang sekali nasib anak itu. (tidak efektif)
Sungguh sangat malang nasib anak itu. (efektif)
Kemarin banyak para karyawan yang melakukan demonstrasi. (tidak efektif)
Kemarin banyak karyawan yang melakukan demonstrasi. (efektif)
Kegiatan itu adalah merupakan kegiatan yang bertujuan agar membangkitkan motivasi belajar mahasiswa. (tidak efektif)
Kegiatan itu merupakan kegiatan yang bertujuan membangkitkan motivasi belajar mahasiswa. (efektif)
Semua mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (tidak efektif)
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (efektif)
Rapat tadi dihadiri oleh para pempinan dan para staf-stafnya. (tidak efektif)
Rapat tadi dihadiri oleh pimpinan dan para staf. (efektif)
Kepala sekolah mengimbau agar para murid-murid giat dalam belajar. (tidak efektif)
Kepala sekolah mengimbau agar para murid giat dalam belajar. (efektif)
Dia berhasil terhindar daripada peristiwa kecelakaan itu. (tidak efektif)
Dia berhasil terhindar dari kecelakaan itu. (efektif)
C. Penutup
1. Kesimpulan
Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan.
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki satu gagasan pokok. Unsur-unsurnya minimal terdiri atas subjek dan predikat . Kalimat efektif di definisikan sebagai kalimat yang memiliki kemampuan untuk mengungkapkan gagasan penutur sehingga pendengar atau pembaca dapat memahami gagasan yang di maksud oleh penutur.
Syarat-syarat dalam kalimat efektif, yaitu:
- Koherensi.
- Kesatuan.
- Kehematan.
- Keparalelan.
- Penekanan.
- Kevariasian.
- penalaran atau logika.
Teknik menyusun kalimat efektif.
- Variasikan panjang-pendeknya kalimat.
- Kombinasikan kalimat langsung dan tidak langsung.
- Kalimat hendaknya berdiri sendiri.
- Hindari kalimat yang bernak-pinak.
- Kombinasikan jenis kalimat yang digunakan.
Daftar Pustaka
https://www.academia.edu/30700260/MAKALAH_BAHASA_INDONESIA_KALIMAT_EFEKTIF
Nugraheni, Anindatya Sri. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Berbasis Pembelajaran Aktif. Jakarta : Kencana.
Ahmad, Alex. 2016. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Bandung : Erlangga.
Nice
BalasHapusNice
BalasHapus